Kamis, 08 September 2016

Al-Hikam (1)

مِنْ عَلَا مَاتِ الْإِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَوُجُوْدِ الزَّلَلِ.

“Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah kurangnya rasa harap (kepada rahmat Allah).”

Syekh Fadhlala Haeri memberikan syarah (ulasan) sbb:

Jika kita berasumsi bahwa sumber kekuatan di balik usaha-usaha adalah diri kita sendiri, kita akan kecewa kala hasilnya tidak sesuai dengan harapan-harapan kita.

Tetapi, kalau kita benar-benar berserah diri kepada Allah SWT, maka kita akan menyaksikan satunya asal dan penyebab di balik ikhtiar, peranan pribadi kita dalam melaksanakannya, dan juga hasilnya.

Kegagalan kemudian hanya akan kita anggap sebagai peringatan untuk memperkuat kesadaran kita akan Kehendak, Rahmat, dan Ke-Pemurahan Allah SWT.

Di mata para shalihin, syuhada’, shidiqqin, serta para Nabi as. terdapat kesatuan total dalam ikhtiar dan hasil.

Kitab Akhlaq (Akhlaq Lil Banin, Al-Hikam Ibnu Athoillah, dan Nashoihul Ibad) - http://daarulhijrahtechnology.blogspot.co.id/

Rabu, 07 September 2016

Kisah kebijaksanaan Rasulullah saw

Pada saat pasukan Muslim beserta dengan Rasulullah dan pada sahabatnya datang untuk menaklukkan kota suci Makkah. Orang-orang musyrik dan kaum Quraisy sangat ketakutan, sehingga tidak ada satu orang pun yang berani memperlihatkan batang hidungnya untuk melawan pasukan muslim yang langsung dipimpin oleh Rasulullah. Diantara sekian banyak orang musyrik dan kaum Quraisy yang paling terpukul adalah Abu Sufyan, dia adalah pemimpin kaum kafir dan bangsawan terhormat. Ia bisanya disanjung oleh rakyatnya. Namun saat peristiwa itu terjadi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani keluar dari rumahnya.

Namun atas kejadian itu Nabi Muhammad S.A.W sangatlah bijaksana, saat Beliau hendak melangkahkan kakinya ke Masjidil Haram untuk meruntuhkan berhala-berhala dika’bah, Beliau berseru kepada penduduk Makkah “Barang siapa yang masuk kedalam Masjidil Haram dan rumah Abu Sufyan, maka akan dilindungi” Mendengar seruan Nabi Muhammad S.A.W itu betapa bangganya Abu Sufyan mendengarnya karena rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Sekarang ia sudah tidak perlu lagi kehilangan muka dihadapan rakyat-rakyatnya. Karena ia merasa bahwa rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram, tempat yang dihormatinya. Dan akibatnya seketika itu juga putra Abu Sufyan yang bernama Mu’awiyah masuk agama Islam. Namun Abu Sufyan dan Istrinya masih belum mau menerima Islam, mereka masih minta waktu seminggu untuk berfikir dulu, sedangkan semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong masuk ke Agama Islam.

Ketika mendengar Abu Sufyan berkata demikian Maka Rasulullahpun menjawab. “Jangan seminggu!” “Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?” tanya Abu Sufyan dengan terkejut. “Tidak waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa, apakah kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agamanya orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal”. Jawab Rasulullah panjang lebar.

Demikian kisah Kebijakan Rasulullah S.A.W dalam menyikapi suatu persoalan, walaupun posisinya sudah diatas dan berkuasa, namun beliau selau bersikap bijaksana dan adil dalam memutuskan setiap tindakannya, semoga kita dapat mengambil hikmah dan intisari dari kisah diatas.

Cc. Kisah Nabi dan Sahabat

Selasa, 06 September 2016

Sayyidina Ali RA dan Lelaki Tua

Dengan tergesa-gesa Sayyidina Ali berangkat ke masjid, waktu sholat subuh itu ia ingin berjamaah bersama Rasulullah. Namun ditengah jalan langkahnya terhambat oleh seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan sebuah tongkat dan tangan kirinya memegang lentera sebagai penerang jalan.

Untuk menghormati orang tua itu,dan sebagai sikap rendah diri, Sayyidina Ali tak ingin mendahului lelaki tua itu, maka ia berjalan dibelakangnya. Karena keadaan itu Sayyidina Ali menjadi terlambat datang berjama'ah di masjid. Celakanya ternyata lelaki tua itu tidak sholat di masjid, karena ia orang Nasrani.

Ketika Sayyida Ali memasuki masjid, jama'ah sholat sedang ruku', Rasulullah saat itu sengaja memanjangkan rukuknya dengan bacaan yang panjang, sehingga Sayyidina Ali dapat mengikutinya menjadi makmum.

Usai sholat Sayyidina Ali bertanya kepada Rasulullah:
” Ya Rasulullah, mengapa engkau memanjangkan ruku'mu, suatu hal yang belum pernah aku jumpai selama ini? ”
” Saat ruku' dan membaca Subhana Rabbiyal 'adzimi, sebagaimna biasanya aku akan berdiri tegak, sebelum kepalaku terangkat, Malaikat Jibril telah mendahului menekan punggungku, aku baru bisa mengangkat kepala dan berdiri tegak untuk membaca i'tidal.” jawab Rasulullah.

Mendengar penjelasan Rasulullah kemudian Sayyidina Ali menceritakan kejadian dalam perjalanan menuju masjid yang baru saja dialami. Rupanya Allah telah memberi isyarat kepada Rasulullah agar Sayyidina Ali bisa ikut berjama'ah sholat subuh bersama Rasulullah

Ternyata bukan itu saja, riwayat yang luar biasa Sayyidina Ali ini, diceritakan pada saat itu Malaikat Mika'il diperintahkan Allah untuk menahan lajunya matahari hanya agar Sayyidina Ali tidak ketinggalan sholat berjama'ah subuh di masjid bersama Rasulullah.

Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh^^

Cc. Kisah Nabi dan Sahabat

Senin, 05 September 2016

Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana

Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.

”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.

”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.

”Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah.”

Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara.

MasyaAllah, luar biasa sekali pemimpin islam terdahulu..

Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh^^

Cc. Kisah Nabi dan Sahabat

Kisah Khalifah Umar bin khattab RA dan Rakyat Jelata

Umar adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana.

Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat.

Nah, pada suatu malam itu, ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar suara tangis anak-anak. Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu.

Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil.
Si ibu berkata kepada anak-anaknya,
”Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang.”

Sang Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang.

Sang Khalifaf menjadi sangat penasaran, karena yang dimask oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.

Akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu,
”Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu..?” tanya Sang Khalifah.

”Mereka sangat lapar,” jawab si ibu.
”Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?” tanya Khalifah.

”Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.” jawab si ibu.

Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris.
Kemudian Khalifah bertanya lagi,
”Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?”
”Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...,” jawab si ibu.
Hati dari sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam.

”Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?” tanya sang khalifah lagi.
”Ia telah zalim kepada saya...,” jawab si ibu.
”Zalim....,” kata sang khalifah dengan sedihnya.
”Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!” kata si ibu.

Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiridan berkata,
”Tunggulah sebenatar Bu ya. Saya akan segera kembali.”

Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.

Jarak antara Madinah denga rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata,
”Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu.”

Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu.
Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.

Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.

Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh..

Cc. Kisah Nabi dan Sahabat

Minggu, 04 September 2016

Rasulullah dan selembar Tikar

Pada suatu waktu Rasulullah saw. sedang tidur-tiduran di rumahnya melepas rasa lelah. Dia berbaring di atas tikar yang terbuat dari daun-daun tamar yang dianyam. Tiba-tiba seorang sahabatnya yang bernama Ibnu Mas’ud datang berkunjung. Oleh karena Rasulullah saw waktu itu tidak memakai baju, maka terlihat jelas oleh Ibnu Mas’ud bekas anyaman tikar melekat pada punggung Rasulullah.

Melihat peristiwa itu Ibnu Mas’ud amat sedih, dan bendungan air matanya pun pecah berserakan. Sungguh-sungguh tidaklah pantas rasanya seorang Rasul kekasih Allah swt., seorang kepala negara dan seorang panglima tertinggi berhal seperti demikian.

Dengan terharu Ibnu Mas’ud berkata : “Ya, Rasulullah! Bolehkah saya membawakan sebuah kasur kemari untuk tuan?”

Mendengar ini Rasulullah saw. bersabda : “Apalah artinya kesenangan hidup di dunia ini bagiku. Perumpamaan hidup di dunia ini bagiku tidak ubahnya seperti seorang musafir dalam perjalanan jauh yang singgah berteduh dibawah pohon kayu yang rindang untuk melepaskan rasa lelah. Kemudian dia harus berangkat meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan yang sangat jauh tidak berujung.”

Alloohumma sholli a'laa muhammad | Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh..

Cr. Kisah Nabi dan Sahabat

Jumat, 02 September 2016

Kuliah ohh kuliah~~~~~~

Belum edit edit tugas 😏

Kalau tugasnya diserahin ke temen, kadang mereka langsung copy paste aja tanpa baca dulu materinya, ngga diperiksa lagi sudah lengkap atau belum, mudah dimengerti atau tidak

jadi saat sudah selesai tugasnya suka bingung sendiri, ada bahasan yang terlalu dan sulit dimengerti, dan saat ditanya: 'ini maksudnya apa? Ngga ngerti...'

'Dihh sama ngga ngerti, orang kemarin langsung copy paste terus diedit biar rapih..' | Lohh terus siapa lagi yang paham kalau dia sendiri ngga paham sama materi yang dia buat😏

Prinsip saya kalau dia yang buat makalah berarti dia sudah paham sama materi yang dia muat dimakalah, yaa masa sih kita mau pake materi yang ngga kita ngerti terus kita harus presentasi didepan temen-temen kan lucu jadinya?? 😂

Yaa tapi sayang seribu sayaang ngga semua orang punya prinsip yang seperti ituu😔 maka dari itu setiap ada tugas saya kerjakan sendiri, karena memang sulit dikerjakan bersama, sigani eopseo.

Yaa meskpun terkadang ditengah jalan saat mengerjakan tugas suka ngeluh sendiri, greget karena ngga ada waktu, tapi yaa ngga sepenuhnya pusing sih, ada untungnya juga..

Karena saya bisa pilih sendiri materi yang saya ngerti, jadi banyak belajar juga, banyak baca, jadi tambah pengetahuannya, dan yang terpenting jadi lebih menghargai sebuah proses.

Seperti yang ust Felix bilang: 'Allah tidak bertanya hasil, tapi yang akan Allah tanya adalah prosesnya, jadi teruslah berproses menjadi baik..' InsyaAllah..

# dan entah kenapa makin kesini malah jadi ngga nyambung haha sudahlah sekian.

Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh

By. @fitriamaliya_
Menulis, untuk memperbaiki diri.