Tampilkan postingan dengan label #melekKHILAFAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #melekKHILAFAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Pahala Membantu Tetangga dan Anak Yatim

Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, ia tertidur di Masjidil Haram. Dia telah bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang malaikat yang lain, “Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?”

Jawab yang lain, “Enam ratus ribu.”
Lalu ia bertanya lagi, “Berapa banyak yang diterima ?”

Jawabnya, “Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun ini diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq.”

Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu sehingga ia sampailah ke rumahnya. Dan ketika diketuk pintunya sambil memberi salam, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya.

Jawab orang itu, “Muwaffaq.”
Lalu abdullah bin Mubarak bertanya padanya, “Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai derajat yang sedemikian itu?”

Jawab Muwaffaq, “Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat karena keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus diirham dari pekerjaanku membuat dan menampal sepatu, lalu aku berniat untuk haji pada tahun ini sedangkan isteriku sedang hamil, maka suatu hari istriku mencium bau makanan dari rumah tetanggaku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuan ku kepada wanita tetanggaku itu.

Jawab tetanggaku, “Aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tidak mendapat makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku menemukan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong sebagian dan ku bawa pulang untuk ku masak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu.”

Ketika aku mendengar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil uang tiga ratus dirham dan kuserahkan kepada tetanggaku tadi seraya menyuruhnya membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam jagaannya itu.
“Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku.” Kata Muwaffaq lagi.

Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahwa membantu tetangga yang dalam kelaparan, amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim.

Rasulullah pernah ditanya, “Ya Rasullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga.”
Jawab Rasulullah, “Jadilah kamu orang yang baik.”

Orang itu bertanya lagi, “Ya Rasulullah, bagaimanakah aku akan mengetahui bahwa aku telah berbuat baik?”

Jawab Rasulullah, “Tanyakan pada tetanggamu, maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat, maka engkau sebenarnya jahat.”

Cc. Kisah Nabi dan Sahabat

Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh..

Salah Satu Mukjizat Nabi muhammad SAW

Ketika waktu untuk shalat subuh tiba, Rasulullah akan berwudhu. Tapi, sama sekali tak ada air, padahal, yang akan berwuhdu cukup banyak.  Para sahabat hendak sholat berjamaah bersama Rasululloh. Tentunya air banyak sangat diperlukan untuk berwudhu.

Rasulullah bertanya “Apa ada kantung air?”
Seorang sahabat menyaut, “ada, ya rasulullah.

Kemudian seorang sahabat itu membawa kantung air yang bahannya terbuat dari kulit kambing. Biasanya kantung air itu digunakan untuk membawa persediaan air ketika dalam perjalanan panjang.

Kemudian rasulullah meletakkan tangan kanannya di atas kantung kulit kambing itu. Jari-jarinya terbuka. Dari sela-sela jarinya memancar air yang bening sekali.

Rasulullah kemudian berseru kepada Bilal bin Rabah, salah satu sahabat rasulullah. “Hai, Bilal!!”, Panggil orang-orang itu untuk berwudhu!!”

Orang-orang yang akan sholat subuh itu pun dipanggil oleh Bilal untuk berwudhu dengan air yang memancar dari sela-sela jari Rasulullah. Bukan hanya berwudhu, bahka seorang sahabat rasul yang bernama Ibnu Mas’ud sampai meminum air tersebut. Air tersebut memiliki rasa yang sejuk, seperti air yang memancar lagsung dari sumber dalam bahwa tanah.

Air tersebut mancur terus sampai semua orang dapat berwudhu. Itulah salah satu mukjizat yang dikaruniakan oleh Allah yang maha kuasa kepada Nabi Muhammad SAW. Mukjizat merupakan karunia yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi.

Setelah selesai menjalankan ibadah sholat subuh, Rasulullah duduk dengan para jamaahnya di masjid. Kemudian Rasulullah bertanya kepada para jamaahnya. “Siapakah orang yang paling menakjubkan imannya?”. salah satu orang dalam jamaah menjawab “malaikat”.

Rasul pun berkata “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”. Berarti, jawaban salah satu sahabat tersebut tidak benar. Tentu saja malaikat beriman, karena mereka bertugas sebagai pelaksana perintah Allah.

Kemudian sahabat lain menjawab “Para nabi!”

Rasul pun berkata “bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari Allah di turunkan kepada mereka?”

“Kalau begitu, sahabat-sabahat Mu, ya Rasulullah”, jawab sahabat

Rasul pun berkata lagi, “bagimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan mukjizatku, hidup bersamaku, mengenal dan melihatku dengan mata kepala mereka sendiri?”

Sahabat pun bertanya lagi, “jadi siapa makhluk Allah yang imannya paling menakjubakan, ya Rasulullah?”

Rasulullah pun menjawab “Kaum yang hidup sesudah kalian,”. Maksudnya adalah umat yang lahir setelah para sahabat rasul sudah tidak hidup lagi atau manusia yang hidup pada masa yang akan datang.

“Mereka membenarkan aku, padahal mereka tidak pernah menyaksikan aku. Mereka menemukan tulisan dan beriman. Mereka mengamalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membelaku, seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku bertemu dengan mereka!”

Alloohumma sholli a'laa muhammad.. | Alloohumma yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii a'laa diinikh..

Rabu, 07 September 2016

Kisah kebijaksanaan Rasulullah saw

Pada saat pasukan Muslim beserta dengan Rasulullah dan pada sahabatnya datang untuk menaklukkan kota suci Makkah. Orang-orang musyrik dan kaum Quraisy sangat ketakutan, sehingga tidak ada satu orang pun yang berani memperlihatkan batang hidungnya untuk melawan pasukan muslim yang langsung dipimpin oleh Rasulullah. Diantara sekian banyak orang musyrik dan kaum Quraisy yang paling terpukul adalah Abu Sufyan, dia adalah pemimpin kaum kafir dan bangsawan terhormat. Ia bisanya disanjung oleh rakyatnya. Namun saat peristiwa itu terjadi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani keluar dari rumahnya.

Namun atas kejadian itu Nabi Muhammad S.A.W sangatlah bijaksana, saat Beliau hendak melangkahkan kakinya ke Masjidil Haram untuk meruntuhkan berhala-berhala dika’bah, Beliau berseru kepada penduduk Makkah “Barang siapa yang masuk kedalam Masjidil Haram dan rumah Abu Sufyan, maka akan dilindungi” Mendengar seruan Nabi Muhammad S.A.W itu betapa bangganya Abu Sufyan mendengarnya karena rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Sekarang ia sudah tidak perlu lagi kehilangan muka dihadapan rakyat-rakyatnya. Karena ia merasa bahwa rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram, tempat yang dihormatinya. Dan akibatnya seketika itu juga putra Abu Sufyan yang bernama Mu’awiyah masuk agama Islam. Namun Abu Sufyan dan Istrinya masih belum mau menerima Islam, mereka masih minta waktu seminggu untuk berfikir dulu, sedangkan semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong masuk ke Agama Islam.

Ketika mendengar Abu Sufyan berkata demikian Maka Rasulullahpun menjawab. “Jangan seminggu!” “Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?” tanya Abu Sufyan dengan terkejut. “Tidak waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa, apakah kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agamanya orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal”. Jawab Rasulullah panjang lebar.

Demikian kisah Kebijakan Rasulullah S.A.W dalam menyikapi suatu persoalan, walaupun posisinya sudah diatas dan berkuasa, namun beliau selau bersikap bijaksana dan adil dalam memutuskan setiap tindakannya, semoga kita dapat mengambil hikmah dan intisari dari kisah diatas.

Cc. Kisah Nabi dan Sahabat